Pengamat Minta Pemerintah Waspadai Risiko di Balik Penekanan Harga Tes PCR

Namun, Andree menyebut tidak mudah untuk menilai efektivitas kebijakan ini tanpa informasi lengkap mengenai komponen biaya.
Oleh karena itu, dia berpesan, pemerintah perlu juga memperhatikan reaksi pasar.
"Jika setelah harga dipatok malah banyak lab yang tidak menawarkan PCR lagi atau terjadi kelangkaan PCR, berarti harga tersebut tidak bisa menutupi biaya lab," katanya.
Andree menuturkan solusi paling aman adalah menambah pasokan dengan memperbanyak jalur impor.
Dia menambahkan untuk jangka menengah dan panjang, solusi yang dibutuhkan adalah menarik investasi pada manufaktur alat kesehatan dalam negeri.
Selama ini, Andree menyebutkan berdasarkan data terakhir dari Kementerian Keuangan terlihat masih lemahnya testing dan tracing. Anggaran yang dikucurkan hanya sebesar Rp 4,0 8 triliun dari total anggaran penanganan Covid-19 2021 sebesar Rp 185,98 triliun.
"Jumlah yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan alokasi vaksinasi sebesar Rp 58 triliun dan Rp 59,1 triliun untuk pengobatan," kata Andree. (mcr10/jpnn)
Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:
Pengamat menyebutkan penekanan harga tes PCR memiliki sejumlah risiko. Pemerintah diminta mewaspadai risiko tekanan pada harga tes PCR.
Redaktur & Reporter : Elvi Robia
- Perhutani Hadirkan Posko Mudik BUMN 2025 di Pelabuhan Batam & Baubau
- Aset BUMN Tak Cukup Tutupi Utang, Pengamat: Ini Tanda Bahaya Serius
- Gelar Program Mudik Gratis 2025, Bank Mandiri Lepas 8.500 Pemudik dengan 170 Bus
- Kementerian BUMN Lepas Peserta Mudik Gratis dengan 200 Kota Tujuan
- Yusuf Permana Dicopot dari Jajaran Komisaris BNI
- PNM Dukung Program Mudik Aman Sampai Tujuan BUMN 2025