Pengamat Politik: Wajar Media Asing Soroti Perkembangan Demokrasi di Indonesia

“Hal ini karena jelas-jelas mengancam masa depan Indonesia yang disebut-sebut akan menjadi pionir pertumbuhan demokrasi dunia," ujar Ray.
Dia menyayangkan pihak-pihak yang diduga mendukung nepotisme politik itu menganggap kekhawatiran masyarakat soal cacatnya demokrasi itu biasa dan cenderung menjadikannya sebuah candaan semata.
“Misalnya mereka bilang tidak usah didengar, jogetin saja. Kemudian muncul istilah lelucon Samsul (asam sulfat) mereka menganggap semua, tidak lebih dari sekadar lelucon,” ujar Ray.
Ray turut menyayangkan sikap Presiden Jokowi yang berupaya melanggengkan kekuasaan atau nepotisme.
Padahal, Jokowi tidak pernah berkeringat untuk reformasi, malah berkhianat terhadap cita-cita reformasi yang ingin menjauhkan dari nepotisme.
“Jokowi malah mengorbankan demokrasi demi kepentingan keluarganya,” pungkasnya.
Turut hadir pula sebagai narasumber, Pakar Hukum Tata Negara, Bivitri Susanti dan Peneliti Perludem Khoirunnisa Nur Agustyati.(fri/jpnn)
Pengamat Politik UNAIR Universitas Airlangga, Airlangga Pribadi Kusman menilai wajar apabila demokrasi elektoral di Indonesia mendapat sorotan media asing.
Redaktur & Reporter : Friederich Batari
- Pengamat Politik Sebut Wajar Jokowi Diunggulkan Jadi Ketua Wantimpres RI
- PA GMNI Dorong Etika Bernegara Berbasis Pancasila untuk Atasi Krisis Demokrasi
- Konsorsium Jurnalisme Aman Desak Pemerintah Lindungi Kebebasan Pers
- Eks Pimpinan KPK Anggap Pembahasan RUU Kejaksaan, Polri, dan TNI Bermasalah
- Analis Ekonomi Politik Sebut Pemerintahaan Prabowo – Gibran Solid dan Demokrasi Indonesia Baik-baik Saja
- Kritik Pelaksanaan Retret, Akademisi: Kepala Daerah Jadi Perpanjangan Tangan Presiden