Pengikut Dimas Bertahan di Tenda-tenda, Menunggu Perintah Gaib

Ada kamar mandi dan WC, masjid besar, serta toko koperasi yang menjual aneka kebutuhan hidup. Ada pula warung makan/kopi yang tersebar di sudut-sudut kompleks.
Menariknya, padepokan juga menyediakan tempat fitness dan panggung hiburan. Mungkin itu dimaksudkan untuk membunuh waktu selama menunggu pencairan uang yang dijanjikan.
Maklum, para pengikut yang berdatangan dari berbagai daerah tidak hanya sehari dua hari tinggal di padepokan, melainkan bulanan.
Bahkan, ada yang tahunan. Bergantung kesabaran dan kesetiaan mereka terhadap ’’ajaran’’ yang diberikan guru mereka, Dimas Kanjeng.
Namun, sejak penangkapan Dimas Kanjeng pada Kamis (22/9) yang penuh drama, suasana di padepokan berangsur surut dari keramaian.
Bahkan, seminggu setelahnya, suasana di tenda-tenda mulai sepi. ’’Maklum, setelah ada kejadian itu (penangkapan Dimas Kanjeng, Red), banyak yang memutuskan untuk pulang,’’ ucap Sekretaris Urusan Program Padepokan Dimas Kanjeng Hermanto kepada Jawa Pos.
Pada hari-hari sebelum penangkapan Dimas Kanjeng, kata dia, biasanya terdapat sekitar 6 ribu orang yang tumplek blek di tenda-tenda di dua lapangan itu setiap malam. Namun, kini tinggal sekitar 400 orang yang bertahan.
’’Tempat parkir di sini biasanya tidak bisa nampung kendaraan lagi. Motor atau mobil harus parkir di luar,’’ papar Hermanto yang malam itu menemani Jawa Pos blusukan ke dalam kampung buatan tersebut. ’’Tapi, saya yakin mereka nanti datang lagi. Lihat situasi,’’ kata Hermanto.
DIMAS Kanjeng Taat Pribadi telah berstatus sebagai tersangka kasus pembunuhan dan penipuan. Namun, masih banyak pengikutnya bertahan di tenda-tenda
- Semana Santa: Syahdu dan Sakral Prosesi Laut Menghantar Tuan Meninu
- Inilah Rangkaian Prosesi Paskah Semana Santa di Kota Reinha Rosari, Larantuka
- Semarak Prosesi Paskah Semana Santa di Kota Reinha Rosari, Larantuka
- Sang Puspa Dunia Hiburan, Diusir saat Demam Malaria, Senantiasa Dekat Penguasa Istana
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu