Pengungsi Asal Nauru Memulai Hidup Baru Setelah Dimukimkan Di AS

Setelah meninggalkan kamp penahanan, para pengungsi yang berhasil hanya memiliki sedikit pilihan mengenai kota tempat mereka dikirim di AS.
Pemerintah AS membayar biaya pemukiman kembali, termasuk akomodasi sementara dan pekerja sosial selama tiga bulan - tiket penerbangan juga diberikan sebagai pinjaman tanpa bunga.
Tetapi pada akhir dari periode tiga bulan itu, para pengungsi harus menjalani hidup sendiri.
Menurut Faisal Parvez, petugas dari agensi sosial pemerintahannya tidak memberikan banyak bantuan - dia berhasil mendapat pekerjaan sendiri dan beruntung bisa hidup dengan tiga pengungsi lain yang sebelumnya dia temui di Nauru.
"Mereka mengajak saya berkeliling dan kami saling memahami. Jadi kami berempat, kami seperti keluarga," katanya.
Parvez melarikan diri dari Myanmar pada 2011 ketika dia berusia 17 tahun dan mengatakan kepada ABC dia khawatir dia "akan dibunuh" berdasarkan kepercayaan agama dan latar belakang etnisnya jika dia kembali.
Sekarang selain bekerja di sebuah restoran Italia, Parvez juga mengambil kursus persiapan di community college.
"Sebagai seorang pengungsi, saya tidak butuh uang, saya hanya butuh kebebasan dan kemandirian," katanya.
- Dunia Hari Ini: Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Diturunkan dari Jabatannya
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana