Pengunjuk Rasa Sri Lanka Ingin Bertahan di Istana Kepresidenan Sampai Pemerintahan Rajapaksa Berakhir

"Kami bahkan tidak sempat menjelajahi seluruh rumah karena sangat besar… Saya tidak tahu harus berpikir apa saat berada di sana.
"Tapi kami masih sedikit takut ada tentara yang akan menyerbu kami di sana."
N A Ajith adalah salah satu satpam yang bekerja di rumah Presiden. Karena kelangkaan bahan bakar, dia tidak bisa naik bus ke tempat kerjanya saat diserbu hari Sabtu.
"Saya seharusnya masuk kerja tapi ada masalah besar. Saya tidak dapat bus ke tempat kerja, jadi saya harus jalan kaki," katanya.
"Masyarakat harus menjaga properti pemerintah, tetapi pemerintah perlu menyediakan bahan bakar, mengurus sekolah anak-anak.
"Saya satpam di kediaman Presiden dan saya berharap tidak akan dipecat karena saya ayah dari dua anak yang kesulitan."
Ketua parlemen Sri Lanka mengatakan Presiden berencana untuk mundur dari posisinya pada hari Rabu lalu (06/07), sebuah kemenangan bagi para pengunjuk rasa yang telah menyerukan pengunduran dirinya selama berbulan-bulan.
Tetapi pemimpin itu belum terlihat atau terdengar sejak rumahnya diambil alih, melarikan diri ke lokasi yang tidak diketahui sebelum para pengunjuk rasa tiba.
Pilar putih raksasa, kolam renang berwarna biru, fasilitas gym komplet, garasi berisi mobil mewah, semuanya adalah karakteristik rumah Presiden Sri Lanka yang menjadi puncak kemewahan negara itu
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi