Penjara Hati, Sebuah Pameran dari Nuraeni

Saat menjalani tahanan politik di Kebon Waru, Nuraeni bersama beberapa kawannya mendapat kesempatan belajar melukis yang dibimbing langsung oleh Hendra Gunawan.
Di studio kerja Hendra Gunawan Penjara Kebon Waru, Nuraeni pun terus mengasah kepiawaiannya. Karena kepiawaian itu pulalah dia telah dipercaya turut terlibat berkolaborasi bersama Hendra Gunawan dan pelukis lainnya dalam sebuah proyek seni sebuah pesanan lukisan.
Pada 1972 Nuraeni dinyatakan bebas, dan selama masa kebebasannya Nuraeni terus berkarya.
Enam tahun kemudian, Hendra Gunawan dinyatakan bebas, Nuraeni yang telah menikah di Penjara Kebon Waru memiliki waktu dengan sang maestro untuk kembali menjalani kehidupan bersama dan terus melukis.
Nuraeni maupun Hendra Gunawan, keduanya saling menghormati pada titik pencapaian masing-masing.
Mereka seperti saling memberikan pengaruh atas pemikiran dan pengalaman pribadinya sebagai seniman, termasuk gagasan, teknik maupun pemilihan warna yang dihadirkan.
"Bagi seorang Nuraeni HG, bisa jadi, lukisannya adalah sebuah bidang kiasan tentang ‘penjara hati.’ Bidang lukisan yang diperkenalkan pada Nuraeni, di sekitar akhir 1960-an, adalah bidang imajinasi tentang ‘jendela’ yang justru mengunggulkan cara-cara penggalian dan pengungkapan dunia-dalam diri manusia," kata Rizki A. Zaelani selaku kurator pameran.
Penjara Hati merupakan bagian dari presentasi diri atas pengalaman Nuraeni, istri kedua maestro Hendra Gunawan.
- Dilukiskan sebagai Srikandi Membawa Panah, Megawati: Saya Disuruh Membidik Siapa?
- Pemberedelan Pameran Lukisan Pernah Bikin Yos Suprapto Kaya Raya, Begini Ceritanya
- Lukisan Aktivis
- Pameran Batal Digelar, Yos Suprapto Turunkan Semua Lukisan di Galeri Nasional Indonesia
- Amnesty International Bela Pelukis Yos Suprapto, Sebut Kebebasan Berekspresi dalam Bahaya
- Kritikus Seni Ungkap Lukisan Yos Suprapto Sempat Dilihat Kurator dan Tak Dipermasalahkan