Penjual Bunga Australia Rugi Jutaan Dolar Akibat Lockdown di Hari Valentine

"Kami bahkan tidak bisa pergi ke pusat kota dan memberikannya kepada orang-orang, tidak ada orang di sini."
Industri berjalan cukup baik meski ada kerugian
Kepala eksekutif 'Flowers Industry Australia' Anna Jabour mengatakan sulit untuk menentukan angka kerugian penjualan bunga selama akhir pekan, tapi memperkirakan jumlahnya akan mencapai jutaan.
"Di Hari Valentine saja, [biasanya] penjual bunga manapun bisa meraup keuntungan tiga bulan dalam sehari," katanya kepada ABC.
Menurutnya, 'lockdown' berdampak signifikan bagi mereka yang sudah menerima pesanan dari banyak acara korporat atau pernikahan, yang akhirnya dibatalkan.
"[Lockdown] juga benar-benar membawa perubahan besar bagi penjual bunga, ketika tidak ada pejalan kaki yang melewati tokonya."
Anna mengatakan meskipun kerugian terus terjadi selama akhir pekan, industri ini masih berada di jalur yang cukup baik.
Dia mengatakan hilangnya ekspor selama pandemi Covid-19 menyebabkan produksi lokal meningkat.
"Muncul dorongan besar pada petani lokal, sehingga sangat senang melihat toko bunga mendukung [petani] lokal," kata Anna.
Cheryl Roehrich, seorang penanam bunga dari Trentham di negara bagian Victoria, Australia telah menghabiskan waktu setahun untuk mempersiapkan salah satu hari terpenting di hidupnya: Hari Valentine
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi