Perajin Mogok Produksi selama 3 Hari, Tempe dan Tahu Bakal Langka

“Kami sengaja menumpuk drum dan kerei di lapangan sebagai bentuk protes atas kenaikan harga kedelai yang membuat kami tidak bisa produksi,” jelas Rasjani.
Aksi unjuk rasa ini diikuti oleh sekitar seratus perajin tempe dari berbagai wilayah di Depok dan sekitarnya, bahkan mereka menumpuk peralatan produksi dan membentangkan berbagai spanduk berisi protes atas kenaikan harga kedelai.
Di samping itu, berdasarkan data terakhir dari Kementerian Perdagangan, harga kedelai impor di Jakarta mencapai Rp 14 ribu per kilogram, sedangkan lokal mencapai Rp 13 ribu per kilogram.
Salah satu warga, Umi Kulsum mengaku kesulitan mendapatkan tempe atau pun tahu hari ini.
Di salah satu pasar di bilangan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, tempe dan tahu sulit ditemukan.
"Enggak ada yang dagang tempe, tahu juga enggak ada, yang dagang juga enggak menjual," ujar Umi saat dikonfirmasi JPNN.com.
Terkait mogok produksi tempe, Umi berharap pemerintah segera mendengar aspirasi perajin tempe.
Hal itu karena tempe dan tahu adalah salah satu sumber protein yang sangat dibutuhkan masyarakat.
Para perajin tempe dan tahu minta pemerintah turun tangan untuk mengendalikan harga kacang kedelai impor.
- Analis Sebut Kans Ekonomi Indonesia Alami Perkembangan Progresif
- Waspada! Prediksi Kebijakan Donald Trump Bisa Picu Resesi di Indonesia
- Momen Lebaran, Gubernur Harum Beri 3 THR Spesial Untuk Rakyat Kaltim
- Kaya Susah
- Media Asing Sorot Danantara, Dinilai Serius soal Profesionalitas
- Kemudahan Akses Pendanaan bagi Pelaku Ekonomi Kreatif Sedang Dibahas Pemerintah