Perang Diksi dan Kebisingan Tak Substantif

Mengapa Jokowi dan Prabowo memainkan gimik politik saling sindir? Apakah karena waktu kampanye pilpres cukup lama, atau memang capres dan cawapres yang berkontestasi kehilangan trayek imajinasi/narasi menjadi bangsa yang besar.
Mestinya perilaku politik Jokowi dan Prabowo sebagai capres berpanduan pada moral dan habitus politik yang baik. Bukan politik saling sindir, menyudutkan dan membuat polemik setiap pernyataan (statement) politiknya.
Oleh karena itu, keluarkan dan susunlah kata-kata (diksi) yang meneduhkan, menyematkan persatuan dan kesatuan bangsa dalam bertarung, jangan justru sebaliknya membuat gesekan, memantik polemik, blunder politik sehingga ujung-nya bunuh diri politik.
Dan perlu diingat oleh pasangan capres-cawapres dan timnya bahwa mereka sebetulnya punya beban moral untuk menjaga keutuhan bangsa dengan tidak mempertajam pembelahan dan konflik sosial sehingga sikap politik dari masing-masing kandidat dan timnya harus lebih arif dan bijak dalam membuat pernyataan politik. Semoga!
Sangat tidak elok membuat kebisingan dengan memainkan sentimen publik, sementara pada saat yang sama kebisingan tersebut tak berdampak apapun terhadap rakyat.
Redaktur & Reporter : Tim Redaksi
- Jumlah Anggota Koalisi Parpol di Pilpres Perlu Diatur Mencegah Dominasi
- Merespons Putusan MK Tentang PT Nol Persen, Sultan Wacanakan Capres Independen
- Sampit Bantul
- MK Hapus Aturan Presidential Threshold, Said PDIP Singgung Syarat Kualitatif Capres-Cawapres
- Anggap Muslim di Indonesia Paling Beruntung, Kepala BPIP Sebut Setiap WNI Terlahir jadi Capres
- Mahyeldi Diinginkan Lagi Jadi Gubernur Sumbar versi Survei Voxpol