Perawat Memiliki Risiko Tertinggi Tertulari Covid-19, Insentif dan Perlindungan Masih Terlambat

Hal itu membuat perawat kurang istirahat, mengakibatkan fisik memburuk, serta berdampak ke beban mental.
"Itu yang terjadi akhir-akhir ini," tegasnya.
Selain itu, Hanif menambahkan, insentif yang diberikan ke perawat terkadang terlambat.
Menurut dia, sejak Juni 2020 lalu, sejumlah perawat di daerah belum ada yang mendapatkannya.
"Memang insentif tanggung jawab penyalurannya ada di pemerintah daerah. Kami melihat hal itu harus dievaluasi regulasinya, harus berbasis keadilan dan kewajaran," tuturnya.
Dia mencontohkan ketika ada pasien masuk UGD, ICU, atau kamar operasi, di situ yang menangani atau terlibat dalam pelayanan bukan hanya bagian di tiga tempat itu saja.
"Sementara yang lain banyak tidak mendapatkan," bebernya.
Menurut data yang diperoleh Hanif 50 persen dari 274 tenaga kesehatan yang meninggal dunia kebanyakan berada di ruang rawat umum yang tidak merawat pasien Covid-19.
Ketua PPNI Hanif Fadhillah menyebut makin banyak perawat yang terinfeksi Covid-19. Tenaga kesehatan harus mendapatkan perlindungan.
- Polri-TNI Evakuasi Para Guru & Tenaga Kesehatan yang Diserang KKB di Yahukimo
- Bethsaida Caregivers Awards 2025 Ajang Penghargaan Bagi Dokter dan Perawat
- 295 PPPK Nakes Terima SK Perpanjangan Masa Kerja 5 Tahun
- Soal Lagu Bayar Bayar Bayar, GPA Ungkit Peran Polisi Saat Banjir & Penanganan Covid-19
- Uhamka Siapkan Tenaga Medis Profesional untuk Kebutuhan Nakes di Arab Saudi
- Isu COVID & Lab Wuhan Mencuat Lagi, China Gercep Membela Diri