Perdebatan Pilihan Politik di Indonesia Picu Perpecahan Dalam Keluarga

Gayatri, yang hanya ingin disebut dengan nama depannya, menganggap dirinya seorang wanita Muslim yang "normal" di Indonesia.
Dia mengenakan jilbab, sholat lima kali sehari, berpuasa selama bulan Ramadhan, dan secara teratur memberikan amal - semua merupakan rukun Islam.
Namun, ibu dari dua anak ini mengatakan beberapa keluarga besarnya - terutama generasi yang lebih tua - mengatakan dia tidak memenuhi "standar Islam" mereka.
Dia mengatakan itu semua dimulai setelah pemilihan gubernur Jakarta pada tahun 2017, yang secara luas dilihat sebagai ujian toleransi agama dan etnis di Indonesia - negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia.
Kampanye pilkada DKI Jakarta sangat sengit dan memecah belah, dengan calon petahana Basuki Tjahaja Purnama - juga dikenal sebagai Ahok - diadili atas tuduhan penistaan ??agama.
"Saya membagikan potret keluarga saya dalam grup WhatsApp, [dan] kami semua mengenakan kemeja kotak-kotak [pakaian yang menjadi ciri khas Ahok] dan salah satu dari mereka bertanya mengapa saya mendukung orang Tionghoa Kristen?" Kata Gayatri.
Ketegangan meningkat jelang debat presiden

Gayatri tahu beberapa paman dan bibinya secara terbuka mendukung calon presiden Prabowo Subianto dan partai-partai Islam konservatif.
- Dunia Hari Ini: Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Diturunkan dari Jabatannya
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana