Perempuan Asal Indonesia Dituduh Berkali-kali Lakukan Penipuan di Australia

"Mereka tidak tahu siapa identitas Putry sebenarnya. Ketika saya transfer uang kan otomatis di rekening mereka tertera nama saya," kata Subaedah.
"Di situ mereka langsung menuduh saya, dilaporkan ... saya stress jadinya. Saya SMS Putry, dan dia cuma iya-iya saja, tapi tidak melakukan apa-apa."
Akibat peristiwa yang menurutnya terjadi di bulan Juni lalu ini, Subaedah yang awalnya berteman dekat dengan Putri sejak tahun 2018, mengatakan ia sempat tidak napsu makan dan susah tidur selama tiga hari.
"Saya sempat stress, karena kan tidak tahu apa-apa, niat menolong, tapi kena dan dituduh orang. Saya merasa tidak aman, buat diri saya sendiri dan anak-anak saya."

Imbauan melaporkan tindakan bagi komunitas Indonesia
Olivia dan Subaedah tergabung dalam kelompok Facebook yang dibentuk oleh Yulie de Groot, warga Indonesia di Newcastle, yang mengaku pernah menggunakan jasa pengiriman uang Putry.
Maret lalu, Yulie mengatakan sempat menitipkan uang pada Putry, yang pertama kali menawarkan jasa tersebut kepada Yulie lewat Facebook Messenger, untuk dikirimkan ke Indonesia.
Tiga hari setelah mengirim uang kepada rekening Australia Putri, ia mengatakan uang tersebut belum sampai kepada rekening penerima uang Yulie di Indonesia.
Lembaga pengawas Scamwatch di Australia mengeluarkan data terbaru soal kasus penipuan, termasuk pencurian informasi pribadi yang tahun ini meningkat 55 persen dibandingkan tahun lalu
- Dunia Hari Ini: Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Diturunkan dari Jabatannya
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana