Perjuangan Tenaga Medis Timika Saat Merawat Pasien Covid-19

Para pasien yang sebagian besar merupakan ibu-ibu rumah tangga seringkali bercengkrama dengan para petugas medis bahwa mereka sudah rindu untuk berkumpul bersama kembali dengan anggota keluarganya di rumah.
"Rata-rata pasien ibu-ibu bilang rindu ke pasar, rindu memasak untuk keluarga, rindu keluarga dan tetangga. Kami hanya kasih semangat dan bilang pasti bisa sembuh dan bisa pulang. Semangat ya bu? Ibu sehat kami bangga dan bahagia. Mereka bilang Tuhan Yesus memberkati," cerita Karlina.
Karlina mengaku sempat mengalami hipoksia atau kekurangan oksigen. Penglihatannya jadi gelap dan sekujur tubuh langsung berkeringat dingin. Untung rekan-rekannya cepat membantu.
"Saya bahagia dengan teman-teman di ruang isolasi, saling dukung dan membantu. Saya bahagia sekali punya tim seperti mereka. Saya mencintai pekerjaan ini," katanya.
Berjibaku dan berhadap-hadapan dengan risiko jadi korban penularan COVID-19, Karlina hanya meminta hal sederhana yaitu warga tetap berada atau tinggal di dalam rumah.
Berada di dalam rumah, katanya, menjadi cara paling efektif alias obat paling manjur atau mujarab untuk memutus rantai penularan COVID-19.
"Tidak ada lain, stay at home (tinggal di rumah). Bantu kami putuskan rantai (penularan COVID-19) ini. Tolong jangan keluar-keluar, virus ini tidak main-main," pesannya.
Tambah tenaga medis
Hingga Minggu (19/4), jumlah warga Mimika yang terinfeksi COVID-19 bahkan sudah mencapai 32 orang. Perjuangan mereka merawat pasien makin berat. Simak kisahnya.
- 1.400 Tenaga Medis Tewas Akibat Serangan Israel di Gaza
- Bethsaida Caregivers Awards 2025 Ajang Penghargaan Bagi Dokter dan Perawat
- Soal Lagu Bayar Bayar Bayar, GPA Ungkit Peran Polisi Saat Banjir & Penanganan Covid-19
- Uhamka Siapkan Tenaga Medis Profesional untuk Kebutuhan Nakes di Arab Saudi
- Isu COVID & Lab Wuhan Mencuat Lagi, China Gercep Membela Diri
- Sidang Tuntutan Korupsi APD Covid-19 di Sumut Ditunda, Ini Masalahnya