Politikus Muda di Persimpangan Tantangan Dominasi Politisi Uzur
Oleh: Sofyan Abdillah

Politisi muda dapat memimpin dalam menerapkan platform digital untuk memfasilitasi dialog dua arah antara pemerintah dan rakyat.
Politisi muda sering kali dihadapkan pada pemahaman yang terbatas dari generasi yang lebih tua terhadap perubahan sosial dan teknologi.
Oleh karena itu, mereka perlu membangun jembatan komunikasi dan memastikan bahwa solusi-solusi inovatif yang mereka usulkan dapat dipahami dan diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.
Politisi muda sering dituduh tidak serius atau kurang berpengalaman oleh lawan politik mereka yang berpikiran tua.
Gaya komunikasi yang lebih santai, menggunakan media sosial, dan berpartisipasi dalam budaya pop dapat menjadi kendala ketika berhadapan dengan pemikiran kolot.
Politisi muda perlu menemukan keseimbangan antara inovasi dalam komunikasi dan menghormati norma-norma etika politik.
Dengan demikian, tantangan politisi muda dalam menghadapi pemikiran kolot dan tua adalah ujian sejati bagi kemampuan kepemimpinan mereka.
Dengan ketekunan, inovasi, dan kesadaran politik, politisi muda seperti Kaesang Pangarep dapat membuka pintu menuju politik yang lebih dinamis, inklusif, dan progresif.
Politisi muda, sebagai agen perubahan, diharapkan mampu mengubah paradigma tradisional dan memberikan solusi segar untuk menanggulangi berbagai tantangan bangsa
- NasDem Menghormati Jika Jokowi Pilih Gabung PSI
- Apakah Jokowi Akan Bergabung dengan PSI? Begini Analisis Pakar
- Sinyal Jokowi Gabung PSI Makin Kuat, Golkar: Pasti Ada Hitungan Politik
- Menakar Potensi Kolaborasi Politik Jokowi dan PSI Menuju 2029
- Mudik Gratis, PSI Berangkatkan Ratusan Pemudik Naik Bus dan Kereta
- Bahlil, Kawulo, Santri, dan Cita-Cita Republik