Potong Tangan Mayat Taliban, Tentara Australia Bebas Tuduhan Kejahatan Perang

Ketidaksensitifan
Investigasi Angkatan Bersenjata Australia menemukan bahwa setelah anggota SAS secara eksplisit diberitahu agar tidak memotong tangan lebih banyak lagi, mereka masih mempertanyakan apakah hal itu diperbolehkan dalam beberapa situasi.
"Posisi di atas dapat dikaitkan dengan keinginan bersama oleh anggota untuk mendukung (tentara SAS yang telah memotong tangan), setelah dia menerapkan teknik ini," kata laporan tersebut.
"Dukungan seperti itu tidak mengherankan mengingat sifat unit dan operasinya. Namun, pandangan yang diungkapkan tampaknya melampaui daris ekadar dukungan dan menunjukkan penyimpangan nilai, atau setidaknya tingkat ketidaksensitifan," demikian ditambahkan.
Personel lain yang lebih senior yang diwawancarai dalam penyelidikan kurang ambivalen. Hastie dikutip mengatakan: "Naluri saya baik-baik saja, itu adalah praktek yang aneh."
Seorang anggota SAS lainnya mengatakan, "Tak ada ketidakpastian. Saya tidak akan memotong tangan orang."
Petugas penyelidikan mengatakan bahwa dia tidak dapat mengidentifikasi apa yang menyebabkan "pergeseran nilai" pada anggota SAS. Namun mencatat bahwa mereka secara teratur melihat orang mati dan mayat yang tidak utuh, dan mereka sendiri secara teratur membunuh dan mencederai orang.
"Pentingnya (hal ini) adalah bahwa anggota ini membutuhkan arahan sangat jelas dalam kaitannya dengan apa yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan, dan para anggota meminta arah sebanyak mungkin," tulisnya.
"Selain itu, akan sangat tidak bijaksana jika para komandan menganggap anggotanya berada dalam posisi membuat penilaian, dengan cara yang sesuai dengan keputusan para komandan, dan yang lainnya," tambahnya.
- Paus Fransiskus, Pemimpin Gereja Katolik yang Reformis, Meninggal Dunia pada Usia 88 tahun
- Dunia Hari Ini: PM Australia Sebut Rencana Militer Rusia di Indonesia sebagai 'Propaganda'
- Sulitnya Beli Rumah Bagi Anak Muda Jadi Salah Satu Topik di Pemilu Australia
- Rusia Menanggapi Klaim Upayanya Mengakses Pangkalan Militer di Indonesia
- Dunia Hari Ini: Siap Hadapi Perang, Warga Eropa Diminta Sisihkan Bekal untuk 72 Jam
- Rusia Mengincar Pangkalan Udara di Indonesia, Begini Reaksi Australia