Prabowo Subianto Paling Diuntungkan Dengan Isu Ini

jpnn.com, JAKARTA - Pengamat politik dari Universitas Nasional TB Massa Jafar menilai, menghangatnya isu Palestina di dalam negeri berpengaruh terhadap elektabilitas dua tokoh yang disebut-sebut bakal maju di Pilpres 2019, Joko Widodo dan Prabowo Subianto.
Pasalnya, kelompok pendukung keduanya, sama-sama aktif mengecam langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui Yerusalem ibu kota Israel. Hal tersebut menjadi penilaian tersendiri bagi masyarakat yang memang peduli dengan nasib masyarakat Palestina.
"NU pada umumnya ke Joko Widodo, sementara Islam perkotaan, modern lebih cenderung ke Prabowo. Seperti PKS, Muhammadiyah dan lain-lain. Jadi, isu soal Palestina pasti ada pengaruh bagi keduanya, bahwa mereka bagian dari kepentingan Islam," ujar Jafar kepada JPNN, Rabu (20/12).
Koordinator program doktoral Ilmu Politik sekolah pasca sarjana Unas ini menilai, Prabowo tetap paling diuntungkan. Karena kelompok pendukungnya terlihat lebih proaktif mengapitalkan isu Palestina.
"Jadi mereka lebih mudah mengklaim bahwa itu isu mereka, kelompok sejati yang memperjuangkan aspirasi Islam damai untuk Palestina," ucapnya.
Jafar berharap masing-masing pihak tidak sekadar menggunakan isu Palestina demi kepentingan kelompo tertentu. Namun murni demi kemanusiaan.
"Sebenarnya yang jauh lebih penting, isu Palestina sebaiknya tak dalam bangunan sendiri. Tapi terkait sektor lain yang menunjukkan pemimpin-pemimpin di negeri ini mempunyai komitmen luar biasa bagi aspirasi umat Islam," pungkas Jafar. (gir/jpnn)
Kelompok pendukung Prabowo Subianto lebih proaktif menjadikan isu ini sebagai modal mencari perhatian.
Redaktur & Reporter : Ken Girsang
- Didit Hediprasetyo Jadi Kekuatan Tak Terduga Milik Prabowo
- HNW Usulkan ke Prabowo Terbitkan Keppres yang Tetapkan 3 April sebagai Hari NKRI
- Surya Paloh: Kenapa Kami Tidak Ada di Kabinet Rezim Prabowo?
- Ini Pesan Megawati untuk Prabowo Lewat Didit
- Megawati Soekarnoputri Titip Salam ke Prabowo Lewat Didit
- Simak Penilaian Gibran tentang Didit Prabowo, Begini