Profesor Sulaeman: Pelabelan BPA pada Kemasan Galon Bukan Urgensi

Prof Sulaeman memaparkan Kemenkes merekomendasikan kebutuhan air dalam sehari, yaitu sekitar 8 gelas per hari.
Dalam gaya hidup masyarakat dengan mobilitas tinggi seperti saat ini, kebutuhan tersebut dipenuhi oleh air mineral kemasan, dalam hal ini kemasan galon di rumah tangga juga.
Kendati begitu, timbul kegaduhan di masyarakat melalui narasi, risiko kesehatan pada kemasan galon guna ulang bahan polikarbonat yang mengandung BPA.
Pada kesempatan sama, Ahli Polimer dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ir. Akhmad Zainal Abidin, M.Sc., Ph.D, mengkritisi narasi yang dibangun tersebut. Dia menyampaikan kebijakan ini cenderung diskriminatif.
“Jadi, kalau sekarang isunya BPA berbahaya atau berisiko untuk kesehatan, jangan hanya mendengar namanya lalu percaya kalau itu berbahaya," ujar Akhmad.
Terkait bahaya, lanjutnya, harus melihat empat faktor. Jangan hanya menyebut nama zat tertentu lalu dikategorikan tidak boleh.
Itu pemikiran yang salah dan terlalu primitif. Harus disebutkan tiga faktor lainnya, yakni konsentrasi, populasi, dan lama kontak baru bisa ditetapkan sebagai tanda bahaya.
Dia menambahkan regulator perlu mengambil keputusan berdasarkan fakta-fakta ilmiah.
Profesor Sulaeman menegaskan elabelan BPA pada kemasan galon bukan urgensi sehingga terkesan diskriminatif
- Komitmen BPOM Soal Pengawasan Produk Kosmetik yang Beredar di Masyarakat
- Program Desalinasi Gubernur Jateng Berhasil, 250 KK di Pekalongan Menikmati Air Minum Gratis
- BPOM Bantah Isu di Medsos soal Produk Ratansha Gunakan Merkuri
- AQUA Berbagi Kebaikan Ramadan di Masjid Istiqlal
- Yayasan Jiva Svastha Nusantara Gelar Seminar Edukasi Higienitas Air Minum
- BPOM Temukan Boraks dalam Kerupuk Gendar saat Inspeksi Takjil di Semarang