Puasa untuk Tumbuhkan Empati dan Solidaritas

Pada akhir Ramadan, sambung Dede, umat Muslim juga diwajibkan membayar zakat fitrah untuk membersihkan diri dan memberi makan orang lain.
“Dengan demikian, sebenarnya bagian dari proses ibadah puasa ini salah satunya adalah bagaimana membangun solidaritas sesama muslim dan dengan orang-orang yang berbeda agama,” ujar peraih gelar Doktor dari McGill University, Kanada, ini.
Menurut dia, puasa juga harus digunakan untuk bersabar agar tidak mudah terpancing aksi-aksi negatif seperti ujaran kebencian (hate speech) dan berita bohong (hoaks).
Apalagi, akhir-akhir ini bangsa Indonesia diguncang dengan beberapa aksi terorisme.
“Tidak hanya bersabar diri, tapi juga menolak terorisme. Walaupun seringkali aksi tersebut menggunakan simbol-simbol agama ketika melakukan aksi terornya, baik dari segi pakaian, ucapan, lafal dan sebagainya, tetapi aksi itu bukanlah agama dan tidak menjadi bagian dari perintah agama,” kata pria kelahiran Ciamis, 5 oktober 1957 itu. (jos/jpnn)
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah Jakarta Dede Rosyada mengatakan, puasa selama Ramadan bukan hanya menahan lapar dan haus.
Redaktur & Reporter : Ragil
- Lonjakan Kendaraan di GT Kalikangkung Saat Arus Balik Lebaran Capai 158 Persen
- Angka Kecelakaan Mudik Turun, Anggota Komisi III Minta Semua Pihak Optimalkan Pelayanan
- Salat Id di Wilayah Polres Priok Berjalan Khidmat Berkat Sinergi Masyarakat dan Aparat
- Ketua MUI Ajak Umat Islam Tetap Memiliki Integritas Seusai Ramadan
- Johan Rosihan PKS: Idulfitri jadi Momentum Membangun Negeri dengan Akhlak
- Membangun Pribadi Berintegritas di Hari Raya Idulfitri