Pupuk Subsidi Kosong

Pupuk Subsidi Kosong
Pupuk Subsidi Kosong

jpnn.com - PAGARALAM – Stok pupuk subsidi di tingkat pengecer di Pagaralam mengalami kekosongan. Kondisi ini membuat cemas sejumlah petani di sejumlah wilayah kecamatan. Pantauan di lapangan, pupuk subsidi yang saat ini sulit didapat di antaranya urea, SP 36, NPK Phonska, dan ZA.

”Kami terpaksa menunda membeli pupuk karena sulitnya mencari pupuk subsidi di pengecer. Yang ada pupuk nonsubsidi yang harganya sangat mahal,” ujar Yanto, petani di Dempo Selatan.

Syarifuddin, pengecer di kawasan Pasar Dempo Permai, mengatakan, petani keberatan membeli pupuk nonsubsidi. ”Padahal, pupuk sangat dibutuhkan untuk proses tanam. Seperti, Urea (putih), HCL, dan Mutiara yang harganya memang jauh lebih mahal, hampir 3 kali lipat dari harga pupuk bersubsidi,” jelasnya.

Diakuinya, memang sebagian kecil ada yang menggunakan produk pupuk yang nonsubsidi. ”Itupun terpaksa lantaran terlanjur telah melakukan tanam. Jika dibeli jumlahnya dikurangi dari kebutuhan, alasan harganya mahal,” ujarnya.  

Ibrahim (40), pemilik Toko Dempo Tani yang pada tahun lalu sebagai distributor Urea subsidi, mengatakan, sejauh ini belum bisa melayani penebusan pupuk Urea dari kelompok tani. ”Jika tak ada halangan, pertengahan Februari nanti penebusannya sudah mulai dilakukan. Kelompok tani dan pengecer bisa melayani permintaan pupuk dari petani,” terangnya.              

Kepala Dinas Pangan dan Hortikultura Kota Pagaralam Jumaldi Jani SP, didampingi Kabid PLA dan Sarana dan Prasarana Rahmawati SP, melalui Kasi Pupuk dan Pestisida Erizon SP, mengatakan, awal tahun ini belum ada pendistribusian pupuk dari distributor ke pengecer.

”Hal ini disebabkan rekap permintaan pupuk berdasarkan usulan petani yang ditampung melalui rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) belum 100 persen kita terima, sehingga belum bisa dilakukan pendistribusian ke pengecer untuk melayani penebusan dari kelompok tani,” pungkasnya. (ald/ce6)


PAGARALAM – Stok pupuk subsidi di tingkat pengecer di Pagaralam mengalami kekosongan. Kondisi ini membuat cemas sejumlah petani di sejumlah


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News