Putusan Otak
Oleh: Dahlan Iskan
.jpeg)
Ia minta anggaran untuk honor staf itu: satu jam USD 500. Sekitar Rp 7,5 juta satu jam.
"Saya sendiri tidak perlu dibayar. Saya masih menerima gaji sebagai hakim," katanya.
Siapa yang harus menanggung biaya itu?
Hakim Dearie memutuskan: pihak Trump. Ini karena Trump-lah yang minta penilai independen.
Reputasi hakim independen ini sangat tinggi. Ia juga hakim pada pengadilan yang khusus menangani perkara campur tangannya intelijen asing.
Yang juga bersejarah: Daerie adalah juga hakim di perkara pengeboman gedung federal di Oklahoma City. Pelakunya: kelompok kanan yang tidak puas dengan pemerintahan federal yang dikuasai Partai Demokrat.
Sebenarnya Raymond Daerie sudah bulat di dalam hatinya: akan memensiunkan diri akhir tahun ini. Rasanya sempat.
Yang tidak ia sangka: ia akan membuat sejarah besar persis di akhir masa pengabdiannya. (*)
Dahlan Iskan singgung soal Azrul Ananda mengundurkan diri sebagai Presiden Persebaya. Lalu dia berbicara tentang Donald Trump.
Redaktur : M. Fathra Nazrul Islam
Reporter : Tim Redaksi
- Soal Kebijakan Tarif Trump, Indonesia Diusulkan Dorong WTO Menyehatkan Perdagangan Global
- Menko Airlangga Bertemu PM Anwar Ibrahim, Bahas Strategi Menghadapi Tarif Resiprokal AS
- Trump Terapkan Bea Masuk Tinggi ke Produk RI, Misbakhun Punya Saran untuk Pemerintah & BI
- Ekonom Ungkap Komoditas yang Bakal Terdampak Kebijakan Tarif Trump
- Trump Berulah, Macron Desak Perusahaan Prancis Setop Berinvestasi di Amerika
- Respons Pemerintah RI Soal Kebijakan Baru Donald Trump