Putuskan Aliran Listrik Pelanggan, Perusahaan Australia Didenda Rp 400 Juta

Sebuah perusahaan besar penyedia listrik dan gas di Australia, AGL telah dikenai denda $ 40 ribu (sekitar Rp 400 juta) karena memutuskan aliran listrik ke rumah sembilan pelanggan di Australia Selatan, yang mengalami kesulitan membayar tagihan listrik.
Hukum di Australia melarang perusahaan penyedia listrik dan gas untuk memutuskan aliran listrik dan gas terhadap para pelanggan yang sedang mengalami kesulitan, dan beberapa langkah harus diambil sebelum aliran tersebut bisa diputuskan.
Kepala Regulator Energi Australia (AER) Paula Conboy mengatakan mereka akan terus memantau keadaan sehingga para penyedia energi di Australia mematuhi peraturan yang ada.
AGL dikenai denda Rp 400 juta karena memutuskan aliran listrik ke rumah pelanggan. (ABC News)
Conboy mengatakan para pelanggan yang khawatir bahwa mereka tidak bisa membayar tagihan tepat waktu harus menghubungi perusahaan penyedia secepat mungkin.
"Para penyedia ini harus menawarkan bantuan." katanya.
"Pelanggan bisa mengajukan permintaan pembayaran bertahap, atau ikut dalam program bagi mereka yang mengalami kesulitan keuangan."
"Mereka juga bisa mengecek apakah mereka bisa menerima keringanan lainnya, dan juga apakah penyedia memiliki tarif yang lebih rendah." kata Conboy.
Sebuah perusahaan besar penyedia listrik dan gas di Australia, AGL telah dikenai denda $ 40 ribu (sekitar Rp 400 juta) karena memutuskan aliran listrik
Redaktur & Reporter : Tim Redaksi
- Dunia Hari Ini: Vatikan Mengatakan Paus Fransiskus Masih dalam kondisi kritis
- Dunia Hari Ini: Ledakan Bus di Israel Diduga 'Serangan Teror'
- Pelajar di Luar Negeri Ikut Dukung Aksi 'Indonesia Gelap'
- Dunia Hari Ini: Presiden Prabowo Subianto Lantik 481 Kepala Daerah
- Dunia Hari Ini: Bus Terjun ke Jurang di Bolivia, 30 Orang Tewas
- Omon-Omon Pemangkasan Anggaran: Efisiensi yang Kontradiktif?