Ragukan Vaksin AstraZeneca, Warga Papua Nugini Menolak Disuntik

"Ada lebih banyak efek samping setelah divaksinasi, setelah kurun waktu tertentu," katanya.
Di media sosial, banyak orang yang menyuarakan kekhawatiran yang sama dengan Miriam, dan mengatakan bahwa mereka perlu lebih banyak bukti bahwa vaksin tersebut aman.
Para ahli kesehatan saat ini berusaha untuk menyampaikan pesan yang lebih kuat bahwa AstraZeneca sebenarnya aman dan efek samping yang berbahaya itu sangat jarang sekali terjadi.
Australia punya 'standar ganda'
Khai Huang, ahli penyakit menular dari Burnet Institute di Australia mengatakan bahwa tentu saja ada risiko bahwa tetap dijalankannya program vaksinasi di Papua Nugini dapat menimbulkan salah paham, setelah Australia sendiri telah memutuskan untuk membatasi penggunaannya.
"Ini bisa dilihat sebagai standar ganda, maksudnya, mengapa Australia mengatakan ini? Membatasi vaksin ini dalam negeri, tapi boleh di Papua Nugini," kata Dr Huang.
Ia mengatakan, penting bagi mereka yang memiliki kekhawatiran-kekhawatiran itu untuk ingat bahwa AstraZeneca adalah vaksin yang aman dan efektif.
"Risikonya sangat kecil, dan itu sesuatu yang perlu kita benar-benar kita simpan dalam perspektif," katanya.
Pejabat kesehatan lokal Papua Nugini memutuskan untuk meneruskan program vaksinasi dengan AstraZeneca setelah berkonsultasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Keputusan Australia membatasi pemakaian vaksin AstraZeneca untuk kelompok di bawah 50 tahun telah menyebabkan keraguan vaksinasi di Papua Nugini yang saat ini sedang berlangsung
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi