Ratu Elizabeth II, Warisan yang Tak Ada Duanya

Ketika Raja George V meninggal di tahun 1936, David mengambil takhta sebagai Raja Edward VIII, tapi kemudian mundur setahun kemudian hanya karena ingin menikahi Wallis Simpson, seorang janda dari Amerika Serikat.
Keputusannya untuk lebih memilih cinta dari pada mahkota membuat monarki Inggris terjebak dalam krisis. Albert, ayah Elizabeth terpaksa harus mengambil kekuasaan dan menjadi Raja George VI.
Elizabeth, usia 10 tahun, yang biasa dipanggil Lilibet oleh keluarganya tiba-tiba disiapkan untuk menjadi penerus kerjaan.
Masa depan untuk menyelamatkan kerajaan ada di tangan Albert dan Elizabeth.
15 tahun kemudian, Lilibet berganti panggilan, menjadi 'Her Majesty', yang juga melewati masa-masa jatuh cinta, bertahan dari perang, dan kehilangan orang-orang di sekelilingnya.
Menyemangati warganya saat perang
Elizabeth pernah menggambarkan penobatan dirinya ke singgasana kerajaan "sangat mendadak", tapi ia sudah terlatih sepanjang hidupnya.
Di bawah pengawasan guru privat, sang putri mempelajari segala hal, mulai dari geopolitik, sejarah konstitusional hingga agama, hukum, dan bahasa. Dia membaca surat-surat resmi dengan ayahnya dan bertemu secara informal dengan kepala negara.
Dibesarkan dalam keluarga yang penuh kasih bernama 'We Four' oleh ayah mereka, Elizabeth dan adik perempuannya, Margaret, juga meluangkan waktu untuk bermain.
Setelah mendapat warisan takhta di usia 25 tahun, Ratu Elizabeth II meluangkan seluruh hidupnya untuk melayani warganya
- Dunia Hari Ini: Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Diturunkan dari Jabatannya
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana