Ribuan Pekerja Terampil Tetap Tidak Bisa ke Australia Meski Sudah Memiliki Visa

"Saya masih menggunakan obat anti-stres, untuk menjaga kestabilan diri. Saya harus kuat di depan orangtua, istri, dan anak saya," katanya.
Dia mengaku lebih mengkhawatirkan putranya, Nayel, serta istrinya, Tashfia.
"Hidup kami tidak bergerak, tapi tertahan. Anak saya yang berusia lima tahun seharusnya bersekolah sekarang di Australia. Dia kesulitan di rumah. Ini bukan kehidupan anak-anak. Dia ingin punya teman di Australia," ujar Hansanul.
"Setiap kali dia bertanya, Baba, kapan kita ke Australia? Saya hanya bisa memberinya janji," katanya.
"Saya tidak ingin menghancurkan harapannya. Saya juga ingin menjaga harapan saya sendiri," kata Hansanul.
Rumah sudah dijual, tiket pesawat sudah dibeli
Data Pemerintah Australia pada bulan Maret menunjukkan hampir 8.500 pemegang visa pekerja terampil regional masih tertahan di negara lain dan tak bisa masuk ke negara ini.
Sorotan publik sangat besar pada mahasiswa internasional, para pengungsi, serta warga negara dan penduduk tetap Australia yang kesulitan pulang. Namun, kelompok pekerja terampil ini merasa diabaikan.
"Kami terjebak dalam ketidakpastian," kata Yarik Turianskyi kepada ABC.
Sudah bertahun-tahun keluarga ini berusaha untuk bisa tinggal dan kerja di Australia
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi