Robert Arjuna, Dokter yang Berdedikasi di Pendidikan dengan Mendirikan Sekolah
Pernah 11 Tahun Mengabdi sebagai Guru

Bahkan, Sayang School memiliki ruang pemeriksaan khusus. Namanya Pink Room. Di dalamnya, ada 12 tempat tidur dengan desain bunga-bungaan. Alat kesehatan tampak lengkap di sana. Di antaranya, alat pengukur tinggi dan berat badan.
Robert menuturkan, ada pepatah Latin yang menyebutkan mens sana in corpore sano. Artinya, jiwa yang sehat ada dalam tubuh yang sehat. Menurut dia, tanpa kesehatan prima, siswa tidak bisa belajar dengan maksimal.
Selain itu, dia mendesain Sayang School agar menjadi sekolah yang nyaman bagi siswa-siswinya. Dia mengajarkan kebersamaan kepada anak. Mereka belajar menggambar, mewarnai, dan bermusik.
Robert juga membekali siswanya dengan kemampuan bahasa Inggris. Sebab, selama ini dia sering melihat dokter Indonesia tidak bisa tampil di pentas dunia lantaran terkendala bahasa. Sayang School juga menganut kurikulum nasional sekaligus Cambridge dan Gracefield School, Singapura.
Di sekolah itu, Robert tidak hanya mementingkan unsur kesehatan dan kurikulum. Para siswa juga diajak untuk berempati pada sesamanya. Pada Natal bulan depan, misalnya, para siswa itu diajak merayakan Natal bersama Panti Asuhan Bakti Luhur di Wisma Tropodo, Sidoarjo.
Selain itu, anak-anak diajal study tour ke Gracefield Singapura. ’’Mereka sudah bersosialisasi dengan berbagai bangsa dan kalangan sejak dini,’’ jelasnya.
Robert mengatakan, pengalaman masa kecil dan kecintaannya pada pendidikanlah yang menggerakkannya mendirikan sekolah. Menurut dia, setiap anak berhak mendapat pendidikan yang baik. ”Waktu saya kecil, sekolah begitu susah. Jadi, saya berjanji sama Tuhan akan membuat sekolah,” kata pria yang beristri Ellen Sinatra itu.
Robert menuturkan, hatinya tergerak untuk mendirikan sekolah lantaran latar belakang masa lalunya. Robert lahir pada 16 September 1957 di sebuah kampung nelayan. Tepatnya di Bagansiapiapi, Riau. Hidupnya dilalui dengan keras. Maklum, orang tuanya tidak berasal dari keluarga kaya. Ayahnya seorang pelaut.
Masa kecilnya dilalui dengan sulit. Dia harus berjualan untuk membiayai sekolah. Karena itu, dia pun berjanji pada Tuhan untuk bisa mendirikan sekolah.
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara