Robert Steven, Master Bonsai Dunia dari Indonesia
Tak Pernah Jual Karya, Jadwal Padat hingga 2011
Jumat, 02 Juli 2010 – 10:07 WIB

Robert Steven, Master Bonsai Dunia dari Indonesia
Jenis pohon yang sering dijadikan bonsai, antara lain, cemara udang, santigi, wahong, dan kelingkit. Awalnya, bibit tanaman ditaruh dalam pot besar lebih dulu untuk membentuk struktur percabangan. Ketika struktur sudah terbentuk, baru pohon dipindahkan ke pot kecil.
"Untuk membuat pohon bonsai, diperlukan waktu relatif lama, 4-5 tahun. Jadi, nggak bisa instan, harus melatih kesabaran," katanya.
Kini, ayah dua anak itu semakin sibuk mengurusi kegiatan para penghobi bonsai. Sebab, dua minggu sekali Robert harus pergi ke luar negeri mengajar di berbagai organisasi bonsai di negara tersebut. "Saya sudah di-booking hingga 2011, mengajar bonsai di berbagai negara," tutur pemilik usaha bahan stempel merek Mark Stamp itu.
Robert kini memiliki lebih dari 500 bonsai yang sebagian besar diletakkan di taman miliknya di Jl Taman Pluit Putra Putri. Dia menilai semua bonsai buatannya adalah masterpiece (karya terbaik) karena dirinya tidak pernah membuat pengulangan. "Jadi, satu sama lain pasti berbeda," ungkapnya.
LAMAN Webecoist.com menyebut hanya ada enam master bonsai yang karyanya dinilai luar biasa di dunia. Yaitu, John Naka, Ben Oki, Masahiko Kimura,
BERITA TERKAIT
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara