Salah Siapa
Oleh Dahlan Iskan
.jpeg)
Saya mengerti kejengkelan Amerika itu. Tiba-tiba saja jumlah penderita Covid-19 sudah 46.000. Tadi malam WIB.
Namun saya juga mengerti kejengkelan Tiongkok pada Amerika. Lalu Tiongkok tiba-tiba menutup akses data itu.
Tidak ada penjelasan dari Tiongkok: mengapa lab di Shanghai itu tiba-tiba ditutup. Hanya dua-tiga hari setelah data itu dibuka ke dunia internasional.
Lab di Shanghai itu semula menjadi pusat informasi dunia soal Covid-19. Tiba-tiba saja ditutup. Tidak ada lagi yang bisa menghubunginya.
Tidak hanya itu. Tiongkok juga menolak kedatangan tim dokter Amerika. Yang niatnya untuk membantu mengatasi wabah di Wuhan.
Amerika terus mendesak agar tim medis mereka boleh datang ke Wuhan. Benar-benar untuk membantu Tiongkok --yang mestinya kewalahan.
Namun Tiongkok tetap menolak tawaran itu. Amerika sangat marah atas penolakan itu.
Perang dagang merembet ke perang soal wabah. Menjadi api dalam sekam. Membuat Amerika mendidih di dalam sekam itu.
Menurut catatan saya, data virus itu memang sudah pernah dibuka ke dunia internasional. Saya juga tahu sudah ada lembaga di Indonesia yang mendapat kiriman data itu.
- Respons Pemerintah RI Soal Kebijakan Baru Donald Trump
- Ini Respons Dasco atas Kebijakan Trump soal Tarif Impor
- Renovasi Rumah
- Waspada! Prediksi Kebijakan Donald Trump Bisa Picu Resesi di Indonesia
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Kanselir Jerman Sebut Donald Trump Merusak Tatanan Niaga Global