Sarjana-Sarjana Tangguh yang Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (2-Habis)
Riski pun Tinggal Sendiri di Aula Sekolah
Kamis, 02 Februari 2012 – 00:02 WIB

Para sarjana peserta SM3T tengah bercengkrama dengan para murid SD. Foto : Rukin Firda/Jawa Pos
Tubuh mungil itu pun langsung menghambur dan memeluk Lutfi. Meski terharu, keinginan agar dipindah seperti dalam SMS-nya tidak terlihat. Dia terlihat tegar dan kuat menjalani kesendiriannya dalam menjalankan tugas. Dia sempat berbisik kepada Lutfi. "Beri saya teman, Ibu. Saya membutuhkan teman," katanya.
Dia menambahkan, bukan kesepian yang membuat dirinya membutuhkan teman melainkan ada bisa membantunya merancang program-program bagi anak-anak didiknya.
Apa yang mengubah Riski yang tergambar dalam SMS-nya dengan keadaannya saat ini? "Antusiasme anak-anak dan keramahan masyarakat sekitar," ujarnya, lantas tersenyum.
Sebelum ada sarjana SM3T di sekolah Riski, siswa terkesan enggan ke sekolah. Selain keharusan membantu orang tua, sering mereka merasa sia-sia ke sekolah karena justru gurunya yang tidak hadir.
Kondisi topografis Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), melahirkan banyak sekolah terpencil. Bagi para sarjana SM3T, keterbatasan itu
BERITA TERKAIT
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara