Sebelum Menerapkan Kurikulum Merdeka, Ini yang Harus Diperhatikan Sekolah

"Jangan tergesa-gesa memulainya hanya karena melihat orang lain yang sudah mulai lebih dulu,” tegas Zulfikri.
Dia mengimbau kepada satuan pendidikan untuk mempelajari bahan dan informasi di laman resmi Kemendikbudristek maupun melalui saluran informasi di daerah baik Dinas Pendidikan, komunitas pengajar, guru, pengawas, dan organisasi/pegiat pendidikan.
Menurut Zulfikri, pelatihan terbaik adalah tumbuh dari dalam diri sendiri. Jika selama ini tergantung pelatihan berantai, dari pusat, turun ke provinsi dan kabupaten/kota, akan mungkin terjadi distrorsi sehingga yang tersampaikan hanya teknis administrasi dan mekanistik saja.
Sebagai pendamping, sebaiknya para pendidik memahami terlebih dulu hakikat anak, filosofi pembelajaran, dan kurikulum.
“Jika itu yang munculkan dari dalam diri para guru yakni belajar dimulai dari diri masing-masing maka belajar maupun pelatihan tidak harus menunggu dilatih. Namun, bisa dimulai kapan saja dan di mana saja,” terangnya.
Selain itu, yang tidak kalah penting dalam mengatasi krisis pembelajaran adalah penguatan pola pikir dalam ekosistem pendidikan.
Pertama, menciptakan kesadaran seluruh warga sekolah untuk berefleksi dan bergerak bersama dalam kolaborasi yang selaras guna mencapai pembelajaran yang bermakna.
Kedua, memberi ruang seluas-luasnya bagi anak untuk berkreasi dan mengembangkan diri dalam menemukan jati dirinya agar menjadi manusia yang bermanfaat di masa depan.
Kurikulum Merdeka mulai dilaksanakan tahun ini, tetapi sebelum menerapkan ada baiknya sekolah mengetahui beberapa ketentuannya
- Kemendikdasmen Memperkuat Kurikulum & Perlindungan Anak Lewat KREASI
- Mensos Sebut 53 Sekolah Rakyat Siap Beroperasi
- Pelaku Usaha Jakarta Merespons Positif Keberadaan Aplikasi Kantong UMKM
- Merayakan Tahun Pelajaran Baru dengan SPMB
- Pengunaan Aplikasi Kantong UMKM Dorong UMKM Banten Naik Kelas
- Pemkot Cirebon Nilai Aplikasi Digital Kantong UMKM Bantu Kualitas Usaha Kecil