Sejumlah Merk Fashion Australia Dianggap Belum Lindungi Buruh Pabrik Garmen

Secara keseluruhan, industri manufaktur pakaian di dunia masih dikenal memiliki majikan yang 'brutalan'.
Di Bangladesh, para buruhnya mendapat upah sekitar $70 atau Rp 700.000 sebulan dan banyak anak-anak yang dipaksa untuk bekerja di sejumlah pabrik.
Menurut Carolyn Kitto, dari yayasan Stop the Traffik yang banyak menyoroti eksploitasi buruh, yang bisa dilakukan oleh para konsumen adalah menekan para produsen mode dan pemilik merk-merk fesyen untuk menjual produk mereka dengan lebih bertanggung jawab dan etis.
"Mereka harus bertanya kepada merk-merk favorit mereka, "Siapa yang membuat pakaian-pakaian ini?", "Apa yang kamu ketahuai soal rantai suplainya?", "Apa yang kamu ketahui soal perburuhannya?"," tegas Kitto.
Kitto juga mengingatkan bahwa sebagai konsumen, kita memiliki kekuatan untuk menentukan apa yang akan dipilih dan dibeli. Karena pada akhirnya bisnis akan mendengar apa yang diinginkan konsumennya.
Sebuah laporan soal industri fashion menyatakan sejumlah perusahaan mode dan tekstil dari Australia belum cukup melakukan perlindungan bagi para
Redaktur & Reporter : Tim Redaksi
- Paus Fransiskus, Pemimpin Gereja Katolik yang Reformis, Meninggal Dunia pada Usia 88 tahun
- Dunia Hari Ini: PM Australia Sebut Rencana Militer Rusia di Indonesia sebagai 'Propaganda'
- Sulitnya Beli Rumah Bagi Anak Muda Jadi Salah Satu Topik di Pemilu Australia
- Rusia Menanggapi Klaim Upayanya Mengakses Pangkalan Militer di Indonesia
- Dunia Hari Ini: Siap Hadapi Perang, Warga Eropa Diminta Sisihkan Bekal untuk 72 Jam
- Rusia Mengincar Pangkalan Udara di Indonesia, Begini Reaksi Australia