Sejumlah Teori Konspirasi Terkait COVID-19 di Australia Disebarkan Lewat TikTok

Di aplikasinya, konten terkait informasi salah soal COVID dimulai dengan video seorang senator dari Partai One Nation, yakni Malcolm Roberts, yang berbagi informasi salah soal vaksin.
"Kemudian muncul hoaks dan video yang mengatakan jangan divaksinasi dan saya terkejut juga," ujar Mitch.
"Saya pikir enggak masuk akal dan saya swipe ke video selanjutnya."
Laporan investigasi dari program triple j Hack dan Four Corners ABC sebelumnya menemukan jika algoritme TikTok telah membuat pengguna di Australia rentan terhadap "konten yang membahayakan" yang dimuat di bagian "For You Page".
Semakin banyak "Like" video yang diberikan, atau mengikuti akun tertentu, maka TikTok akan mempelajari kebiasaan Anda dan tak heran jika video-video yang muncul di ponsel Anda akan bertema sama.
Mitch mengatakan hanya butuh 30 menit untuk algoritme di TikTok menawarkan video-video berisi informasi yang salah soal COVID dan teori konspirasi.
Mitch bahkan sempat meng-klik "report" untuk video yang tidak ia sukai.
"Konten seperti itu tidak akan berdampak bagi saya, tapi mengkhawatirkan akan berdampak bagi mereka yang mudah dipengaruhi," ujarnya.
Dalam hitungan menit pengguna TikTok bisa menemukan sejumlah video teori konspirasi
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Video Reels di Instagram Sudah Bisa Dipercepat, Begini Caranya