Sektor Wisata Pasifik Kekurangan Pekerja karena Banyak yang Pindah ke Australia dan Selandia Baru

Bulan April lalu pemerintah Australia memperluas program Skema Pergerakan Pekerja Pasifik Australia (PALM), yang sekarang mengizinkan pekerja di bidang 'hospitality', pariwisata dan layanan lanjut usia untuk mengisi kekurangan pekerja di Australia.
Langkah itu muncul di saat pariwisata di Fiji baru mendapatkan kembali momentum dengan dibukanya kembali negara tersebut setelah ditutup karena COVID.
Dalam kunjungannya ke Fiji bulan lalu, Perdana Menteri Anthony Albanese mengatakan skema ini "bagus bagi Australia" untuk mengisi kekurangan pekerja. Namun juga "bagus bagi negara tetangga kami di Pasifik", khususnya karena lebih banyak pekerja perempuan bisa berpartisipasi.
Namun pergerakan pekerja ini tidaklah begitu positif bagi bisnis lokal di kepulauan Pasifik karena mereka pergi di saat sedang sibuk.
'Tidak pernah terjadi sebelumnya'
Shakil Zoro Bhamji pernah mempekerjakan sampai 95 orang di jaringan kedai kopinya Coffee Hub.
Tetapi dia kehilangan 20 pekerja tahun ini, karena banyak yang berhenti mendadak setelah visa mereka untuk bekerja di Australia keluar.
"Mereka pada dasarnya meninggalkan tempat kerja begitu saja. Jadi bikin kesal melihat keadaan seperti ini," kata Sakhil.
Dia mengatakan mereka sekarang seperti "berdiri di satu kaki" dengan harus mencari pekerja baru, tapi kemudian pekerja tersebut juga akan keluar.
Skema untuk mendatangkan pekerja dari kawasan Pasifik ke Australia membuat banyak bisnis di kawasan Pasifik yang malah kekurangan pekerja
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Ambil Alih 99% Saham CKBD, CBDK Hadirkan Hotel Bintang 5 di Kawasan NICE
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi
- Dunia Hari Ini: Unjuk Rasa di Turki Berlanjut, Jurnalis BBC Dideportasi