Sertifikat Vaksinasi Palsu Bisa Membahayakan Upaya Australia Menangani COVID-19

Ia mengatakan saat menerapkan mandat tersebut, setelah ada alasan yang kuat, harus dibuat sebuah sistem di mana warga yang paling terdampak sudah dikonsultasikan dengan baik.
Belum jelas mengapa sertifikat palsu sedang dicari: apakah orang frustrasi dengan keterlambatan program vaksinasi di Australia, ataukah mereka memang anti-vaksin, atau sebutannya 'anti-vaxxer'.
Tapi dr Christian mengatakan apa pun alasannya memalsukan sertifikat vaksin adalah pelanggaran hukum yang berat.
Menurutnya ini akan semakin menyulitkan upaya Australia dalam menangani COVID-19.
"Ini akan mengubah apa yang terjadi di rumah sakit, kita juga berpotensi bertanggung jawab atas varian Australia kita sendiri," ujarnya.
Sementara dr Mohamad mengatakan sertifikat vaksin palsu dapat berdampak pada ketepatan data vaksinasi.
"Jika orang-orang yang sudah tercatat dalam daftar imunisasi Australia kemudian positif COVID, maka akan mengirimkan sinyal palsu dan fiktif ke pihak otoritas," jelasnya.
"Kemudian itu mempengaruhi persepsi kita tentang keamanan dan efektivitas vaksin."
Sertifikat vaksin COVID-19 diyakini bisa menjadi tiket menuju kebebasan dari lockdown yang berkelanjutan di Australia dan berdampak bagi jutaan warganya
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi