Setelah Lamaran, Anak dan Ibu yang Berboncengan Itu Tewas Ditabrak Bus
Sebelum Meregang Nyawa, Berhenti untuk Beli Sawo
Selasa, 14 Juni 2011 – 08:08 WIB
Seperti diberitakan sebelumnya, insiden mengerikan tersebut berawal ketika bus Diana 06 melaju dari arah Wonosari dengan kecepatan tinggi. Kala itu kondisi jalan menurun dan menikung. Diduga rem blong, bus tersebut oleng, menabrak mobil Kijang dan tiga motor, lalu masuk jurang. Pada insiden itu, lima orang tewas, termasuk Uslam dan ibunya yang berboncengan dengan motor.
Kemarin pagi jenazah ibu dan anak tersebut disemayamkan di rumah duka di Dusun Semali, Desa Salamkanci, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang. Di rumah yang sangat sederhana itu, jasad kaku mereka sudah dibungkus kain kafan dan diletakkan di dalam keranda, bersiap-siap untuk dimakamkan. Dua keranda tersebut dikelilingi belasan orang yang mengaji. Bahkan, ada yang sampai menitikkan air mata.
Sekitar pukul 10.00, dua jenazah siap diberangkatkan ke peristirahatan terakhir. Seperti adat Jawa pada umumnya, sebelum jenazah dibawa ke pemakaman, beberapa anggota keluarga diberi kesempatan untuk memberikan penghormatan terakhir. Khusus keluarga yang ditinggal diberi waktu untuk berjalan di bawah keranda hingga tiga kali. Selanjutnya, dua jenazah dibawa ke pemakaman umum di desa tersebut, sekitar 300 meter dari rumah duka.
"Banyak yang datang melayat karena selama hidup almarhum dikenal sangat baik. Suka menolong, meski mereka bukan dari keluarga mampu," kata Munaseh, 56, salah seorang pelayat yang juga tetangga Sugiman. Dia sama sekali tak menyangka tetangganya tersebut bakal pergi secepat itu.
Kecelakaan yang melibatkan bus, mobil Kijang, dan tiga motor di Bantul, Jogja, Minggu siang lalu (12/6) membuat keinginan Uslamwalyati untuk segera
BERITA TERKAIT
- Eling Lan Waspada, Pameran Butet di Bali untuk Peringatkan Melik Nggendong Lali
- Grebeg Mulud Sekaten, Tradisi yang Diyakini Menambah Usia dan Menolak Bala
- AKBP Condro Sasongko, Polisi Jenaka di Tanah Jawara
- MP21 Freeport, Mengubah Lahan Gersang Limbah Tambang Menjadi Gesang
- Sekolah Asrama Taruna Papua, Ikhtiar Mendidik Anak-anak dari Suku Terpencil Menembus Garis Batas
- Kolonel Zainal Khairul: Pak Prabowo Satuan Khusus, Saya Infanteri dari 408