Setiap Murid Harus Lancar Baca Notasi Jawa
Kamis, 08 Juli 2010 – 10:55 WIB

FOTO : Raka Deny/IndoPos
Lahirnya kedua album itu, kata Joko, terinspirasi oleh kelahiran anak keduanya, Nanda Sutrisno, 18, dan anak ketiga, Ratih Sutrisno, 16, yang lahir di Minnesota. Sejak hamil, istrinya memang rutin mendengarkan musik gamelan. "Setelah lahir, biarpun menangis sejadi-jadinya, anak-anak saya akan langsung berhenti setelah mendengarkan suara gamelan," papar Joko.
Menurut dia, rancaknya suara gamelan menjadi musik relaksasi bagi kehamilan istrinya kala itu. Karena itu, di album kedua Joko mempersembahkan sebuah komposisi berjudul Titi Pati yang berdurasi 23 menit untuk relaksasi. "Yang itu memang untuk relaksasi diri," jelasnya.
Meski sudah 15 tahun hidup di AS, Joko dan keluarga tidak berniat mengganti status kewarganegaraan. Karena itu, dia masih sering wira-wiri AS-Indonesia. Selain untuk memperpanjang izin tinggal di AS, dia menyempatkan pulang untuk bersilaturahmi dengan keluarga dan teman-temannya.
Ke depan, Joko berencana membuka pusat kesenian di kampung halaman di Sragen. Sebuah gedung lengkap dengan arena pertunjukan dan tempat latihan sudah dirancangnya. Di sana dia juga akan membuka sekolah seni gratis. "Ini mimpi saya empat tahun ke depan, setelah saya ?pensiun? dari mengajar di AS," tandasnya. (*/c2/ari)
Di Amerika Serikat ada kelompok karawitan yang beranggota warga setempat. Namanya Sumunar Indonesian Music and Dance. Pendirinya warga Indonesia,
Redaktur & Reporter : Tim Redaksi
BERITA TERKAIT
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara