Simak Penjelasan Doktor Ilmu Kepolisian Tentang Fenomena Lone Wolf dan Milenial

Hal itu dimanfaatkan para ulama organik kekerasan dari jaringan teroris untuk menyebarkan ilmu agama secara gratis dan praktis dengan rujukan-rujukan yang yang jelas dan tegas melalui media sosial.
"Penafsiran yang dilakukan oleh para ulama organik kekerasan ini adalah tafsir yang berasal dari kelompok keagamaan yang cenderung tekstual dan skripturalis. Penafsiran tunggal ini dipahami oleh anak muda milenial, hingga masuk ke dalam jebakan kelompok teroris,” ujar Dedy.
Tafsir tunggal ini kemudian memonopoli seluruh pemahaman kaum muda milenial yang direkrut melalui media sosial.
Lantas, bagaimana cara untuk menanggulangi terorisme lone wolf? Menurut Dedy salah satunya dengan mengaktifkan pemantauan melalui cyber police.
“Jika cyber police di Indonesia lemah dalam memantau perkembangan dan komunikasi dari kelompok teroris, maka kelompok ini akan menguasai dan membajak anak-anak muda Indonesia untuk menjadi tentara-tentara milenial yang dikendalikan secara online,” ujar Dedy.
Cara lain, kata Dedy, dengan menerapkan program kontra wacana atau counter discourse dalam tema-tema yang sering menjadi bahasan kelompok teroris.
“Tema-tema yang sering menjadi bahasannya adalah tentang jihad, daulah islamiyah, khilafah, baiat, perang qital, imamah, al wala wal baro atau loyalitas dan melepaskan diri dari struktur thogut, dan lain-lain,” imbuh Dedy. (*/adk/jpnn)
Mentor kekerasan dalam kelompok teroris sudah menyiapkan konsep surat wasiat lone wolf buat keluarganya.
Redaktur & Reporter : Adek
- Dulu Usut Teroris, Kini Brigjen Eko Hadi Dipilih jadi Dirtipid Narkoba Bareskrim
- Bea Cukai dan Polri Temukan 1,88 Kuintal Sabu-Sabu di Kebun Sawit di Aceh Tamiang
- AKBP Fajar Ditangkap Propam Mabes Polri, Kasusnya Dobel
- Belum Beres, Pemeriksaan 4 Polisi Intimidasi Lagu Sukatani Masih Berlangsung
- Band Sukatani Minta Maaf telah Menyentil Polisi, Ini Respons Mabes Polri
- 4 Anggota Mafia Narkoba Asal Jambi Ini Segera Diadili