Sisi Gelap Algoritma TikTok yang Mengancam Kesehatan Jiwa dan Pikiran Pengguna

Perusahaan tersebut mengatakan ini disebabkan kesalahan algoritma, namun pengguna dari kelompok minoritas mengatakan ini dikarenakan suatu pola.
Beberapa pembuat konten lainnya yang memposting video pro-Palestina mengalami hal yang sama.
Institut Kebijakan Strategis Australia (ASPI) melakukan penyelidikan akademis pertamanya mengenai kegiatan sensor di TikTok dan menemukan bahwa perusahaan tersebut aktif menggunakan algoritmanya untuk menghilangkan konten yang dianggap kontroversial.
Penelitian yang didanai Departemen Amerika Serikat ini menemukan bahwa hashtag mengenai penahanan warga Uyghur, pengunjuk rasa Hong Kong, kelompok LGBTQI dan kelompok anti Pemerintah Rusia adalah beberapa yang dilarang.
"Kami melihat bukti penyeleksi konten yang ada di Tiongkok, bagaimana cara pikir ini masih diberlakukan pada TikTok di luar Tiongkok," ujar Fergus Ryan dari ASPI.
Menurutnya, TikTok kesulitan menemukan identitasnya.
"Semakin banyak yang tahu tentangnya, khususnya setelah banyak masalah, perusahaan ini berusaha untuk memisahkan TikTok, perusahaannya, dari akarnya di Tiongkok. Namun tentu saja, hubungan ini tidak bisa diredam sepenuhnya."
Dalam pernyataannya, TikTok membantah perusahaan itu terlibat dalam pelarangan konten.
Penyelidikan ABC menemukan jika algoritma aplikasi ini mengancam kesehatan jiwa dan pemikiran penggunanya
- Dunia Hari Ini: Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Diturunkan dari Jabatannya
- TikTok For Artists Memudahkan Musisi Mempromosikan Lagu
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun