Sudah Ada Insentif Rp 60 juta, Warga Australia Tetap Tak Mau Kerja di Pertanian


Mimpi buruk birokrasi bagi petani
Lee Fox, seorang petani gandum di wilayah Wimmera, Victoria, baru-baru ini menandatangani skema bantuan untuk mendapat pekerja yang mau pindah.
Namun, ia mengatakan butuh waktu sebulan untuk mengatur dokumen dengan departemen pemerintah terkait dan penyedia layanan tenaga kerja. Masalah yang sama dialami petani yang tiba-tiba membutuhkan pekerja lepas, karena tergantung kapan tanaman siap dipanen.
"Saya sangat ragu banyak petani yang memiliki akses ke skema ini, karena dokumen dan waktu yang dibutuhkan untuk mencari tahu informasi ini sangat melelahkan," katanya.
"Kami kekurangan tenaga kerja, tapi kami tidak punya waktu untuk menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk melakukannya."

Terlepas dari mimpi buruk birokrasi, pekerja yang dipekerjakan Lee, bernama Wayne Russel, mengatakan uang menjadi alasannya untuk pindah dari kota Melbourne ke kawasan Wimmera.
"Tunjangan itu akan mencakup pembelian bensin, dan pakaian kerja, tetapi biaya terbesarnya dihabiskan untuk akomodasi, yang bagi saya sekitar A$4.500 [atau lebih dari Rp45 juta]. Saya sangat berterima kasih untuk itu," katanya.
Upaya mendorong warga Australia yang kehilangan pekerjaan karena pandemi virus corona untuk bekerja di pertanian tampaknya gagal
- Dunia Hari Ini: Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Diturunkan dari Jabatannya
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana