Sukadiono
Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Pujangga Inggris William Shakespeare mempertanyakan ‘’What is in the name’’, Apa arti sebuah nama.
Bunga mawar akan tetap harum meskipun diberi nama lain.
Begitu ungkapan lengkap dari Shakespeare. Seseorang yang punya kualitas hebat akan tetap diakui kehebatannya siapa pun namanya.
Akan tetapi, di sisi lain, nama adalah sebuah identitas.
Nama Arab diasosiasikan dengan Islam dan santri (tentu tidak selalu demikian, Samsul Nursalim, contohnya), dan nama Jawa dianggap kurang Islam, atau paling tidak kurang santri.
Orang Jawa suka memberi nama anaknya dengan satu suku kata saja, misalnya Sukarno atau Soeharto (untuk keperluan pengurusan paspor agak merepotkan karena nama minimal harus dua suku kata).
Kedua tokoh itu adalah presiden Republik Indonesia, sebuah negara dengan penduduk mayoritas Islam terbesar di dunia.
Supaya terlihat lebih islami maka nama Sukarno ditambahi menjadi Ahmad Sukarno.
Kemunculan Sukadiono sebagai ketua juga memunculkan beberapa catatan, antara lain, adanya pergeseran orientasi warga Muhammadiyah Jawa Timur.
- Muhammadiyah Jakarta Minta Izin kepada Pramono Terkait Pembangunan Universitas
- Pesantren Jalan Cahaya Hadirkan Dakwah Inklusif bagi Penyandang Disabilitas
- Mendes Yandri Berkolaborasi dengan PP Muhammadiyah Kuatkan Ekonomi dan Dakwah di Desa
- Sambut Ramadan, Kemenag Kirim 1.000 Pendakwah ke Wilayah 3T hingga Luar Negeri
- Bicara di Forum LHKP Muhammadiyah, Saleh: Pak Prabowo Itu Tidak Macam-Macam
- Danone Indonesia dan MPKU Muhammadiyah Gelar Edukasi Akbar Sekolah Sehat