Surabaya Lombok
Oleh: Dahlan Iskan
.jpeg)
Sudah berapa ratus perusahaan yang tiba-tiba kehilangan perkebunan sawit mereka?
Setelah dua jam membaca bel berbunyi. Makanan untuk sahur tiba. Saya bangunkan istri. Inilah sahur pertama di atas kapal.
Usai sahur istri mengambil Al-Qur'an. Dia harus mengejar target: sebelum hari ke 29 bacaannya sudah harus sampai juz 29. Sehari satu juz.
Saya turun satu lantai. Ke masjid. Ternyata antrean berwudunya panjang. Di sektor laki-laki maupun perempuan.
Pun di dalam masjid. Sudah penuh. Saya minta penumpang berkopiah haji untuk jadi imam. Dia menolak keras. Justru minta ke saya untuk jadi imam. Saya menolak –khawatir masih belum sembuh dari murtad. Saling tolak. Harus ada yang mengalah.
Saya mengalah. Salat subuh ini harus dua atau tiga sesi. Maka saya baca surah terpendek: Kulhu. Sebelum itu: Al Asr.
Benar saja. Seluruh jemaah harus bergegas keluar. Lebih banyak lagi yang ingin masuk. "Seperti di gereja saja," celetuk saya mencoba bercanda, "ada kebaktian kedua".
Ternyata ada jemaah yang marah dengan candaan itu. "Jangan samakan masjid dengan gereja..," sergahnya dalam nada tinggi. Dia masih terus nerocos. Saya pilih berlalu.