Takut Pulang ke Negaranya, Warga Myanmar Minta Pemerintah Australia Memperpanjang Izin Tinggal Mereka

Mahasiswi asal Myanmar ini selalu gemetar saat berbicara tentang apa yang terjadi di tanah airnya. Ia mengaku akan ditangkap bila harus kembali ke sana.
Para aktivis memperkirakan lebih dari 700 orang termasuk anak berusia lima tahun telah tewas sejak militer merebut kekuasaan dalam kudeta 1 Februari, menggulingkan Aung San Suu Kyi.
"Kadang-kadang mereka (aparat militer) membunuh di malam hari. Tidak pandang umur," ujar Naw Naw, bukan nama sebenarnya, kepada ABC.
Untuk saat ini, Naw Naw hidup aman di Melbourne. Ia sedang menjalani kuliah bidang pendidikan bagi anak usia dini.
Namun masa studinya di Australia akan segera habis. Visa pelajar yang dia miliki habis masa berlakunya bulan depan.
Sebagai warga etnis Kachin yang blak-blakan menentang kekejaman yang terjadi, dia mengaku takut jika dipaksa kembali ke Myanmar.
"Saya juga akan ditangkap jika saya harus pulang sekarang," katanya kepada ABC.
Menurut Naw Naw, bila ditahan, kemungkinan besar dia tidak akan keluar hidup-hidup.
Mahasiswi asal Myanmar ini selalu gemetar saat berbicara tentang apa yang terjadi di tanah airnya
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Lebih dari 3.000 Orang Tewas Akibat Gempa Myanmar
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana