Teliti Kotoran, Tubuh Manusia Jadi Makanan Selingan
Senin, 05 September 2011 – 07:24 WIB

Prof Putra Sastrawan. Foto: Jawapos
Begitu juga di kebun binatang Pittsburgh. Komodo ditempatkan di ruangan indoor yang sempit. Akibatnya, ia kekurangan vitamin D yang berguna untuk menguatkan tulang-tulangnya. Komodo itu juga mendapat asupan makanan yang lebih dari cukup.
Akibatnya, tubuh komodo semakin menggembung. Sambungan tulang-tulangnya membengkak. Hal itu diperburuk oleh tubuh yang gembrot, komodo malas bergerak. "Tubuhnya semakin gendut sampai tidak bisa bergerak sama sekali. Dia hanya bisa makan terus sampai akhirnya mati," katanya.
Sejak saat itu, Putra menjadi semacam konsultan bagi kebun binatang yang merawat komodo. Mulai kebun binatang di Pittsburgh, Nashville, Miami, hingga Toronto, Kanada. Putra menyarankan kepada mereka agar memberikan kandang yang luas bagi komodo. Dia juga meminta agar tanah kandang dibikin gersang dengan pasir. "Mereka nelpon saya, katanya akhirnya komodo sehat dan mau berolahraga," katanya.
Kondisi serupa juga terjadi di kebun binatang dalam negeri. Terutama kebun binatang yang berada di daerah beriklim adem seperti di Cisarua, Bogor. "Komodo perlu suhu udara yang panas. Di habitat aslinya, suhu tanah sampai 69 derajat Celsius dan suhu udara sampai 45 derajat Celsiun," katanya.
BERKAT ketekunannya mengurusi komodo, Prof Putra Sastrawan sangat dikenal di luar negeri. Dia banyak menjadi konsultan kebun binatang yang merawat
BERITA TERKAIT
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara