Terbang Wedar Jatuh dari Langit, Gempar, Harus Ada Kemenyan

"Jadi yang dibuat Mbah Kluntung itu adalah yang laki-laki, sedangkan yang perempuan yang dibawa oleh Mbah Semendi," kata Sihab.
Sejak saat itu terbang tersebut digunakan untuk acara-acara penting.
Seperti acara selamatan desa, orang-orang yang bernazar, dan lainnya. Tradisi itu berlangsung sampai sekarang.
"Kalau orang bernazar mengundang Terbang Wedar ini dan ternyata lupa, di rumahnya akan didatangi ular sebagai pengingatnya," kata Sihab.
Terbang Wedar juga sering diundang jika ada acara pernikahan, khitanan. Peminat kesenian ini juga masih banyak.
Dalam sebulan rata-rata ada tiga sampai lima kali undangan untuk Terbang Wedar.
Sekali tampil, kelompok Terbang Wedar bisa hingga tiga jam untuk berselawat.
Saat ini masih ada satu kelompok yang melestarikan kesenian Terbang Wedar. Penabuhnya juga tidak sembarangan. Ada ritual khusus sebelum memainkannya.
Terbang Wedar itu dipercaya jatuh dari langit ratusan tahun lalu dan warga menjaganya turun-temurun.
- Bank Mandiri Serahkan Bantuan ke Posyandu dan Grup Rebana di Riau
- Kesenian Islami Kurang Diminati, Gus Jazil Ajak Kemenag & LASQI Bersinergi Lakukan Ini
- Ulama NU Ini Sebut Budaya Sajen Tak Ada Masalah dalam Islam, Lalu Bandingkan dengan Arab
- Begini Cara Satgas Yonif agar Santri Mencintai Musik Islami
- Rebana Dijadikan Kawasan Futuristik