Termakan Teori Konspirasi, Banyak Warga Australia Enggan Dites COVID-19

'Menebarkan rasa takut'
Seorang warga Australia, David Sommerville merasa frustrasi saat melihat orang-orang menyebarkan informasi yang salah tentang tes virus corona di Facebook.
Ia khawatir jika kebingungan tentang tes akan menurunkan tingkat pengetesan, sehingga membuat orang berisiko sakit, bahkan meninggal dunia.
"Saya melihat teman dan kenalan membagikan informasi palsu yang membuat resah, padahal beberapa diantaranya jelas-jelas dilakukan di Amerika karena menggunakan istilah seperti Q-tips," kata David.
Artikel yang mengandung informasi yang salah itu telah dibaca oleh puluhan ribu orang dan menyebabkan keraguan tidak berdasar soal efektivitas tes PCR.
Data dari perusahaan analisis media sosial BuzzSumo menunjukkan 5 dari 10 konten web terkait pengetesan dalam satu bulan terakhir, yang paling banyak menarik pembaca adalah artikel yang secara keliru menyatakan penemu PCR, pemenang hadiah Nobel Kary Mullis, membantah tes ini dapat secara efektif mendeteksi virus menular.
Kabar warga Indonesia di Victoria

Ada banyak warga Indonesia yang tinggal di kawasan 'hostpot' penularan virus corona di Australia.
Situs web yang mempromosikan klaim ini termasuk penerbit berita independen dan blog anti-vaksin.
Menurut 'Reuters Fact Check', hal itu tidak benar, karena Kary telah dikutip dengan salah dan yang ia katakan bukan tentang tes COVID-19.
Melbourne sedang melakukan tes virus corona besar-besaran untuk mengendalikan kasus penularan yang baru terjadi dalam beberapa hari terakhir
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi