Tim Evakuasi di Tengah Konflik Bersenjata di Marawi, Merinding, Sempat Menangis

”Makanya, mereka mengaku merinding dan deg-degan. Sempat menangis haru saat kembali bertemu karena memang tidak ada kawalan,” ujarnya.
Selain itu, banyak hambatan bagi tim untuk bisa menemukan rombongan. Antara lain, gangguan komunikasi antartim karena jaringan yang buruk.
”Namanya juga daerah konflik. Tidak konflik saja, jaringan telepon di sana susah,” ungkapnya.
Belum lagi banyaknya pos pemeriksaan sepanjang jalur menuju lokasi. Karena itu, tim harus menghabiskan waktu cukup lama untuk melalui satu per satu checkpoint yang ada.
Untung, pemerintah sudah menjalin kerja sama yang baik dengan otoritas setempat. ”Hingga akhirnya kedua tim dan rombongan bertemu dan tiba di Davao,” ujarnya dengan lega.
Ditemui dalam kesempatan yang sama, Abdullah Awang, salah seorang penjemput, mengaku bersyukur karena rekannya bisa kembali dengan selamat.
Meski sejak awal dia mengetahui bahwa seluruh jemaah tablig berada dalam kondisi baik dari komunikasi yang terjalin.
”Alhamdulillah, di sana mereka dibantu masyarakat setempat. Kami percaya, karena kami selalu datang dengan baik, maka akan diterima dengan baik,” paparnya.
Handris, 44, dan Andri Supriyanto, 40, terjebak dalam situasi konflik bersenjata saat berdakwah. Apalagi di negeri orang. Bersama rombongan, keduanya
- Penangkapan Duterte Munculkan Kritik Terhadap Rezim Marcos Jr
- Dunia Hari Ini: Mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte Ditangkap di Bandara
- Go Global! UMKM Binaan Pertamina Sukses Ekspor Perdana Madu dan Teh ke Filipina
- 6 Alasan Wapres Filipina Dimakzulkan: Konspirasi Bunuh Presiden hingga Pimpin Demo
- Thailand vs Filipina: Final Ideal atau Raja Baru?
- Filipina vs Thailand: Penantian 52 Tahun The Azkals