Tinggalkan Zona Nyaman, Produknya Rambah Pasar Asia Tenggara

Semula, suami Pungki Septiasari itu tidak kepikiran usahanya bakal semaju ini. Apalagi saat dia memberanikan diri keluar pekerjaan dari salah satu perusahaan swasta bidang konveksi lima tahun silam. Kemudian merintis usaha di bidang konveksi berbekal alat seadanya. Di awal, Arif kerap dicibir dan diremehkan. ‘’Ada saja yang ngejek sampai menghina,’’ ungkapnya.
Sempat pula Arif jatuh pesimistis. Namun, semangatnya bangkit kembali setelah mendapat motivasi dari sahabat terdekatnya. Segala pandangan miring dibungkam dengan keberhasilan usaha. Pengalaman 15 tahun bekerja di tempat konveksi menjadi senjata utama.
Pun, setiap proses dikerjakan sendiri mulai pemotongan kain, penyablonan, hingga menjahit. Itu sukses memangkas biaya produksi. ‘’Lebih murah karena saya kerjakan sendiri dan sekarang dibantu keluarga,’’ sambung ayah dua anak itu.
Sejak awal, Arif tak semata mengejar untung. Bisnis tetap diposisikan untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi keempat saudaranya. Dia masih ingat, alas meja yang digunakannya memotong kain dahulu hanyalah meja di ruang tamu.
Setelah usahanya berkembang, masing-masing saudaranya memegang satu tahapan proses produksi mulai pemotongan hingga finishing. Namun, untuk desain dan racikan tinta sablon, Arif langsung turun tangan. ‘’Sekarang enggak ada lagi yang nganggur di rumah,’’ tukas anak ketiga dari lima bersaudara itu.
Arif jeli menangkap peluang. Usahanya yang semula sukses diapresiasi pasar dalam negeri perlahan terhubung ke luar negeri. Dengan menyasar tenaga kerja Indonesia (TKI) dari Kabupaten Ponorogo yang notabene menduduki peringkat kedua buruh migran terbanyak se-Jatim. Dari sanalah, kaus produksinya memasuki pasar Asia Tenggara seperti Malaysia, Taiwan, dan Hong Kong.
Dalam sebulan omzetnya mencapai 22 juta dan berhasil meraup keuntungan bersih hingga 15 juta per bulan. Terakhir, dia mendapat orderan seribu kaus dari Taiwan dengan total nilai transaksi Rp 85 juta. Kini dia sedang menerima orderan 4 ribu kaus dari luar daerah.
‘’Kalau ke luar negeri, biaya pengiriman mahal. Sekali kirim kadang mencapai Rp 30 juta. Tapi langsung dibayar tunai meski baru negosiasi,’’ pungkasnya. ***(c1/fin)
Arif Wibowo keluar dari tempatnya bekerja, meninggalkan zona nyaman, merintis usaha sendiri dan kini hasil produksinya merambah pasar Asia Tenggara.
Redaktur & Reporter : Soetomo
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara