Tingginya Stigma Terhadap Pasien COVID-19 di Indonesia, Sangat Memprihatinkan

"Ada kasus di mana orang tidak ingin dites, karena tidak ingin terlihat tertular virus."
Di pulau Jawa, Sulawesi, dan Bali, keluarga yang berduka juga memaksa masuk ke rumah sakit untuk mengambil jenazah korban COVID-19, karena khawatir kerabat mereka tidak akan dimakamkan sesuai dengan aturan agama mereka.
Insiden itu menyebabkan puluhan orang kemudian diketahui tertular virus corona.
'Pemerintah tidak berbuat cukup'
Di antara berbagai inisiatif pemerintah Indonesia untuk mendidik masyarakat tentang COVID-19, salah satunya adalah kerja sama dengan Johns Hopkins Center for Communication.
Dalam program tersebut, 25.000 petugas lapangan dikerahkan untuk membantu membagikan informasi tentang virus corona, termasuk melalui Facebook, dengan tujuan meningkatkan kesadaran dan melawan berita palsu dan stigma.
Namun, sosiolog di Nanyang Technological University di Singapura, Sulfikar Amir, mengatakan inisiatif yang sudah ada tidaklah cukup.
"Pemerintah tidak berbuat cukup untuk benar-benar mendidik masyarakat," kata dia.
"Itulah salah satu alasan kita melihat reaksi ekstrem [dari masyarakat]."
Saat Ibu dari Ari Harifin Hendriyawan dinyatakan positif terinfeksi virus corona, tetangganya mengambil palu dan paku dan membuat pagar pemisah
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Gempa Myanmar, Indonesia Kirim Bantuan Tahap Tiga
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana