Tiongkok Minta Australia untuk Meninggalkan Mentalitas Perang Dingin

Jubir Zhao mengatakan Australia telah lama mendapatkan manfaat dari hubungannya dengan Tiongkok.
Namun, hubungan kedua negara secara terbuka memburuk sejak awal 2020 ketika Menteri Luar Negeri Marise Payne mendesak agenda untuk menyelidiki asal-usul COVID-19 di Tiongkok.
Tak lama setelah itu, Tiongkok mulai menerapkan sejumlah sanksi dagang dengan menghentikan impor dan mengenakan tarif yang sangat tinggi atas sejumlah produk Australia.
"Sebagai negara yang telah lama mendapatkan keuntungan dari kerja sama dengan Tiongkok, tidak etis bagi Australia untuk terus-menerus mengangkat wacana tentang 'ancaman Tiongkok', karena tuduhan itu tidak berdasarkan fakta," kata Zhao.
"Hal itu pada akhirnya akan menyakiti dirinya sendiri," tambahnya.
"Kami menyarankan sejumlah politisi Australia ini untuk meninggalkan mentalitas Perang Dingin, berhenti membuat pernyataan yang tidak bertanggung jawab dan bekerja lebih keras untuk perdamaian dan stabilitas regional," kata Jubir Zhao.
Pagi ini, Bendahara Negara (Treasurer) Josh Frydenberg yang ditanya oleh media lokal mengenai kemungkinan perang dengan Tiongkok, mengesampingkan hal itu.
"Kita tidak akan berperang dengan siapa pun," ujarnya sambil tertawa.
Pemerintah Tiongkok memperingatkan sejumlah politisi Australia yang disebutnya berusaha memicu konfrontasi yang pada akhirnya hanya akan merugikan Australia sendiri
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi
- Dunia Hari Ini: Unjuk Rasa di Turki Berlanjut, Jurnalis BBC Dideportasi
- Dunia Hari Ini: Kebakaran Hutan di Korea Selatan, 24 Nyawa Melayang