Totalitas Khrisna Pabichara saat Menggarap Novel Sepatu Dahlan
Blusukan ke Kebun Tebu dan Napak Tilas Enam Kilometer
Kamis, 24 Mei 2012 – 10:01 WIB

Khrisna Pabichara (tengah) menyerahkan buku "Sepatu Dahlan" kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat peluncuran buku di Jaran Raya Darmo, Minggu (20/5). Dahlan Iskan menyaksikan penyerahan buku "Sepatu Dahlan". Foto : Fedrik Tarigan/Jawa Pos
"Padahal, menurut Abah, dulu beliau sanggup menempuhnya hanya dalam waktu satu jam. Benar-benar luar biasa," kisah Khrisna.
"Kaki rasanya sangat pegal. Padahal, saat itu saya mengenakan sepatu. Bagaimana Abah dulu yang ke mana-mana selalu nyeker. Makanya, niat untuk pulang dengan jalan enam km lagi saya urungkan karena sudah tidak kuat," sambung penulis yang produktif menulis cerpen dan esai di berbagai koran itu.
Total Khrisna membutuhkan waktu 1,5 bulan untuk melakukan riset mendalam tentang naskah novelnya. Hebatnya, dia hanya memerlukan waktu delapan hari untuk menyelesaikan novel itu dalam bentuk tulisan.
Tapi, dalam kurun waktu tersebut dia terpaksa menjauhkan diri dari kehidupan sosial. Telepon dan SMS, kalau bukan dari istri atau pihak penerbit, tidak diresponsnya. Begitu juga jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter-nya tidak pernah disentuh."Alhamdulilla h, saya benar-benar bisa menuliskannya dengan cepat dan mengalir deras hingga rampung," tuturnya
Meski sudah menghasilkan 13 buku, menggarap novel merupakan hal baru bagi Khrisna Pabichara. Tidak mau asal-asalan, dia melakoni riset mendalam.
BERITA TERKAIT
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara