Tujuh Tahun Daniel Rudi Sutradarai Film Dokumenter tentang Terorisme
Sabar Ngobrol 14 Jam dengan Teroris Bom Bali di Nusakambangan
Selasa, 24 Mei 2011 – 08:08 WIB

Tujuh Tahun Daniel Rudi Sutradarai Film Dokumenter tentang Terorisme
Sosok Noor tersebut berbeda dari Ali Imron, Amrozi, dan Imam Samudera yang telah diganjar hukuman mati karena mengotaki bom Bali 2002 yang menewaskan 202 orang dan melukai 240 lainnya. "Aneh kan" Kenapa mereka bisa sangat berbeda padahal akarnya sama (dari Ponpes Ngruki, Red)?" ujar Rudi.
Dalam film itu, Rudi yang lulusan IKJ (Institut Kesenian Jakarta) tersebut mengambil angle yang lain daripada yang lain. Jika dalam teror semua orang membicarakan kejadian dan aktor yang terlibat, pada film tersebut, yang dipotret adalah hal-hal yang lebih substansial. Yaitu, dampak bom bunuh diri terhadap keluarga pelaku, terutama anak-anak mereka. "Bagaimana cara pandang para teroris itu yang akhirnya merugikan orang-orang terdekat mereka," papar Rudi.
Menurut dia, cara pandang itu sangat terkait dengan latar belakang teroris. Misalnya, pendidikan dan lingkungan. Contohnya, dalam satu adegan, Imam Samudera berkata lugas bahwa aksinya itu tidak akan bisa dipahami orang-orang yang menyebut dirinya sekuler. Sementara itu, dari sudut pandang Noor, teroris itulah yang tidak memahami esensi Islam.
Akar perdebatan sebenarnya satu. Yaitu, perbedaan cara pandang tentang jihad dan terorisme. Jika teroris menganggap terorisme berarti jihad, Noor memandang keduanya tidak bisa dihubungkan. Perbedaan itu semakin tajam seiring dengan pengalaman hidup masing-masing. Jika setiap hari teroris belajar jihad dengan mengangkat senjata, Noor yang notabene juga jebolan Ngruki itu berjihad dengan cara membahagiakan keluarga, yakni dengan menjadi jurnalis media asing.
Tak semua sutradara bisa melakukan seperti yang dilakukan Daniel Rudi Haryanto. Dia adalah sosok penting di balik film dokumenter tentang terorisme
BERITA TERKAIT
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara